Nagari To-lang Po-hwang Nagari Toho Asal Mulano Lappung
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2012

Tempat bersejarah di Bumi Manggala




tempat bersejarah di menggala
ilustrasi

BERBAGAI jejak yang masih bertakhta meneguhkan bahwa Menggala memang kota tua di Lampung. Banyak tempat dan tilas-tilas di bantaran Way Tulangbawang itu masih menyimpan cerita yang menyejarah.
Aspek menonjol pada peninggalan sejarah salah satunya adalah arsitektur. Mencermati rumah-rumah panggung di Menggala selintas mirip denagan rumah-rumah bangsawan Jawa tempo dulu. Terbuat dari kayu tembesu yang panjang mencapai 20 meter menambah eksotis rumah panggung keluarga Warganegara.

Silsilah Paksi Pak Skala Brak

Silsilah Paksi Bejalan Di Way :
1. Ratoe Bejalan Di Way
2. Ratoe Tunggal
3. Kun Tunggal Simbang Negara
4. Ratoe Mengkuda Pahawang
5. Puyang Rakian
6. Puyang Raja Paksi
7. Dalom Sangun Raja
8. Raja Junjungan
9. Ratoe Mejengau
10. Pangeran Siralaga
11. Dalom Suluh Iroeng
12. Pangeran Nata Marga
13. Pangeran Raja Di Lampoeng
14. Pangeran Jaya Kesuma I
15. Pangeran Pakoe Alam
16. Pangeran Puspa Negara
17. Pangeran Jaya Kesuma II
18. Ratoe Kemala Jagat
19. Suntan Jaya Kesuma III
20. Suntan Jaya Kesuma IV

Sabtu, 31 Desember 2011

SEJARAH DOMPU DAN TULANG BAWANG

Oleh : HM.Agus Suryanto Wartawan Harian Lombok Dompu



Dalam lembaran sejarah di Dompu mencatat,sebelum terbentuknya kerajaan konon didaerah ini pernah berkuasa beberapa kepala suku yang disebut sebagai ‘’NCUHI’’ atau raja kecil para ncuhi tarsebut terdiri dari 4 orang yaitu:


Ncuhi Hu,u
yang mempunyai wilayah kekuasaan Hu,u dan sekitarnya(sekarang kecamtan Hu,u)


Ncuhi Saneo
yang mempunyai wilayah kekusaan daerah Saneo dan sekitanya(sekarang kecamatan Woja Dompu).


Ncuhi Nowa
Yang mempunyai wilayah kekusaan Nowa dan sekitarnya(sekarang masuk kecamatan Woja).


Ncuhi Tonda
yang mempunyai wilayah kekusaan Tonda dan sekitarnya dan saat ini masuk dalam wilayah Desa Riwo kecamatan


Woja Dompu.
Selain empat Orang Ncuhi yang terkenal di Dompu terdapat pula Ncuhi lainya seperti Ncuhi Tolo


Rabu, 16 November 2011

Megou Pak Tulang Bawang

sesat agung dan rumah adat megou pak tulangbawang

prasasti

nuwo adat megou pak tulang bawang

Kerajaan Tulang Bawang



Keberadaan nama Kerajaan Tulang Bawang (To-La P’o-Hwang) sempat di kenal di tanah air. Meski tidak secara terperinci menjelaskan, dari sejumlah riwayat sejarah maupun catatan penziarah asal daratan Cina, mengungkap akan keberadaan daerah kerajaan ini.

Prasasti (batu bertulis) Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang menyebut, saat itu Kerajaan Sriwijaya (Che-Li P'o Chie) telah berkuasa dan ekspedisinya menaklukkan daerah-daerah lain, terutama dua pulau yang berada di bagian barat Indonesia. Sejak saat itu, nama dan kebesaran Kerajaan Tulang Bawang yang sempat berjaya akhirnya lambat laun meredup seiring berkembangnya kerajaan maritim tersebut.

Banyak pertanyaan diajukan mengenai keberadaan Kerajaan Tulang Bawang. Sejarah Indonesia dan keyakinan masyarakat Lampung menyatakan pada suatu masa ada sebuah kerajaan besar di Lampung. Kerajaan itu sudah terlanjur menjadi identitas Provinsi Lampung dalam konteks Indonesia modern. Pertanyaan-pertanyaan yang selanjutnya mengemuka adalah bagaimana asal mula Kerajaan Tulang Bawang, di mana pusat kerajaannya, siapa raja yang memerintah dan siapa pula pewaris tahtanya hingga sekarang.

Banyak sejarawan, antropolog maupun arkeolog, bahkan pemerintah Provinsi Lampung pun, berusaha keras untuk menemukan kembali rangkaian sejarah yang 'hilang' tersebut. Meski hingga kini situs Kerajaan Tulang Bawang belum dapat dilacak keberadaannya, namun usaha-usaha untuk meneliti dan menggali jejak-jejak peninggalannya perlu terus dilakukan.

Dalam perjalanan dan perkembangan sejarah kebudayaan dan perdagangan di Nusantara digambarkan, Kerajaan Tulang Bawang merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia...

Naskah Kuno Letusan Krakatau 1883

Jauh sebelum peneliti asing menulis tentang meletusnya Gunung Krakatau (Krakatoa, Carcata) tanggal 26, 27, dan 28 Agustus 1883, seorang pribumi telah menuliskan kesaksiaan yang amat langka dan menarik, tiga bulan pasca meletusnya Krakatau, melalui Syair Lampung Karam.

Peneliti dan ahli filologi dari Leiden University, Belanda, Suryadi mengatakan hal itu kepada Kompas di Padang, Sumatera Barat, dan melalui surat elektroniknya dari Belanda, Minggu (31/8).

"Kajian-kajian ilmiah dan bibiliografi mengenai Krakatau hampir-hampir luput mencantumkan satu-satunya sumber pribumi tertulis, yang mencatat kesaksian mengenai letusan Krakatau di tahun 1883 itu. Dua tahun penelitian, saya menemukan satu-satunya kesaksian pribumi dalam bentuk tertulis, " katanya.

Sebelum meletus tanggal 26, 27, dan 28 Agustus 1883, Gunung Krakatau telah batuk-batuk sejak 20 Mei 1883. Letusan dahsyat Krakatau menimbulkan awan panas setinggi 70 kilometer dan tsunami setinggi 40 meter dan menewaskan sekitar 36.000 orang.

Sebelum meletus tahun 1883, Gunung Krakatau telah pernah meletus sekitar tahun 1680/1. Letusan itu memunculkan tiga pulau yang saling berdekatan, yakni Pulau Sertung, Pulau Rakata Kecil dan Pulau Rakata.

Suryadi menjelaskan, selama ini yang menjadi bacaan tentang letusan Gunung Krakatau adalah laporan penelitian lengkap GJ Symons dkk, The Eruption of Krakatoa and Subsequent Phenomena: Report of the Krakatoa Committee of the Royal Society (London, 1883).

Sedangkan sumber tertulis pribumi .....

Senin, 14 November 2011

MUASAL DINAMAKANYA PAGAR DEWA



makam minak kemala bumi di pagardewa

Tangga raja pagardewa,yg di gunakan sebagai terminal penyebrangan transportasi air.


Sebenarnya bukan Pagar Dewa tetapi PAGER DEWOU asal kata dari Pagar Dewa, pagar artinya dikelilingi/ dilingkari/ dipagari, dewou artinya dewa-dewa..
Arti pengertian Pagar Dewa :
1. Kampung yang didiami oleh dewa-dewa ( orang lebih)
2. Pagar Dewa = pepatian, pepatian bahasa Lampung = kematian
Pagar Dewa diartikan suatu tempat pembunuhan, bunuh membunuh antara satu dengan yang lainya.
3. pepatian = Raja-raja / para ningrat jadi Pagar Dewa tempat berdirinya para raja-raja.
Sebagai terlihat diatas, Pagar Dewa dilingkungi oleh para keramat-keramat yang menurut anggapan rakyat sama halnya dengan dewa karena kesaktian-kesaktian mereka dan mukjizat-mukjizat para dewa. Jadi Pagar Dewa kampung yang dikelilingi oleh dewa dewa.

Keratuan Melinting



Mengenal Desa Wana dan Tari Melinting


Desa Tradisional Wana terletak di Kecamatan Melinting Kabupaten Lampung Timur. Desa ini merupakan salah satu dari tujuh desa inti kediaman masyarakat Lampung Melinting. Begitu mamasuki desa ini pemandangan mata kita langsung tertuju ke deretan rumah-rumah panggung yang terletak di kanan-kiri jalan raya, yang masih terawat dengan baik dan dihuni oleh penduduknya. Itulah salah satu tipe rumah dengan arsitektur tradisional Suku Lampung yang menjadi eyecatching manakala kita memasuki desa tersebut. Rumah panggung masyarakat Lampung Melinting memiliki ornament ukuran khas Lampung. Suasana kehidupan khas masyarakat adat Lampung Melinting masih terasa di sini, berikut acara-acara tradisi yang masih dilaksanakan masyarakat setempat seperti upacara perkawinan, pertemuan adapt lainnya. Masyarakat Lampung Melinting termasuk ke dalam masyarakat adat Lampung Saibatin (Lampung Peminggir, Lampung Pesisir).
Pada tahun 1990-an Pemerintah Provinsi Lampung menetapkan Desa Tradisional Wana sebagai salah satu obyek pariwisata budaya. Ungkapan Indonesia “pariwisata budaya” atau sering diringkas menjadi “wisata budaya” terbentuk dari dua kata baru yang berasal dari bahasa Sansekerta. Istilah pariwisata, yang telah secara resmi menggantikan istilah tourisme setelah Musyawarah Nasional Taurisme II, pada tahun 1958, mengandung arti pelesir dan hiburan. Adapun istilah budaya, yang muncul pada tahun 1930-an sebagai pengganti istilah Belanda cultuur, mengandung artian pelesiran dan hiburan dengan maksud mengembangkan nalar dan watak seseorang.
Dengan mengunjungi Desa Wana kita bisa mengenali sejumlah aspek budaya Lampung mulai dari mengenali asal-usul keratuan Melinting, manusinya, rumah panggungnya, bahasanya, kehidupan masyarakatnya, adat istiadatnnya, benda-benda budayannya, kreasi kesenian tradisionalnya, dan entah apa lagi. Berikut akan dilihat beberapa aspek budaya dari masyarakat adapt di Desa Wana.
Asal-usul Keratuan Melinting.
Setelah runtuhnnya kerajaan Majapahit sekitar awal abad ke 15, timbulah kerajaan Islam di Pulau Jawa. Hasil perjuangan umat Islam yang dipelopori para wali yang dikenal dengan julukan Walisongo atau 9 wali. Salah satu di antara walisongo itu adalah Syarif Hidayatullah yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati di Cirebon Jawa Barat, setelahSyarif Hidayatullahberhasil menaklukan Jawa Barat termasuk daerah Banten, maka banten diserahkan kepada anaknnya yang tua Maulana Hasanuddin yang bergelar Pangeran Sabakingking. Maulana Hasanuddin jadi Sultan di Banten, ia berkuasa dan memerintah Banten dengan penuh kebijaksanaan, adil dan membimbing rakyat Banten berdasarkan ajaran agama Islam.
Pada suatu ketika, Sultan Maulana Hasanuddin mengirim utusan ke Lampung untuk berdakwah menyebarkan ajaran agama Islam. Adapun yang diutus Sultan Banten itu adalah dua juru dahwah yaitu Ratu Saksi aliasaru Saksi kemudian disebut Darah Putih dan Ratu Simaringgai yang kemudian bergelar Ratu Melinting. Karena penyebaran Agama Islam di Lampung antara lain melalui Labuhan Maringgai sekarang, yang berada di bawah kekuasaan Ratu Pugung dan mereka mengajarkan agama Islam terhadap Ratu Pungung dan rakyat Keratuan Pugung sampai berbulan-bulan. Ratu Pugung mempunyai cucu dua orang gadis yaitu yang bergelar Putri Sinar Alam, anak dari Singindor Alam merupakan anak tertua Ratu Pugung. Satunya lagi bergelar Putri Sinar Kaca, anak dari Gayung Garunggung yang merupakan anak Ratu Pugung yang lebih muda.
Putri Sinar Alam kawin dengan Ratu Saksi (Darah Putih) dan mempunyai anak lelaki bernama Minak Kejala Ratu. Putri Sinar Kaca kawin dengan Ratu Simaringgai yang juga mempunyai anak lelaki bernama Minak Kejala Bidin. Sebelum Minak Kejala Ratu dan Minak Kejala Bidin lahir, sewaktu mereka masih di dalam kandungan, ayah mereka yang kembali ke Cirebon tidak kembali ke Lampung. Setelah Minak Kejala Ratu dan Minak Kejala Bidin tumbuh menjadi pemuda, suatu ketika mereka berdua bertannya kepada ibu mereka, siapa dan dimana gerangan ayah mereka berdua berada. Karena desakan kedua anak itu akhirnya Putri Sinar Kaca menjelaskan tentang bapak mereka berdua. Akhirnya

Minggu, 13 November 2011

SEJARAH SINGKAT KABUPATEN TULANG BAWANG

SEJARAH SINGKAT KABUPATEN TULANG BAWANG





a. Masa Pra Kemerdekaan RI




  Dalam sejarah kebudayaan dan perdagangan di Nusantara, Tulang Bawang
  digambarkan merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia, disamping
  kerajaan Melayu, Sriwijaya, Kutai, dan Tarumanegara. Meskipun belum banyak
  catatan sejarah yang mengungkapkan keberadaan kerajaan ini, namun catatan Cina
  kuno menyebutkan pada pertengahan abad ke-4 seorang pejiarah Agama Budha yang
  bernama Fa-Hien, pernah singgah di sebuah kerajaan yang makmur dan berjaya,
  To-Lang P'o-Hwang (Tulang Bawang) di pedalaman Chrqse (pulau emas Sumatera).

  Sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan pusat kerajaan Tulang Bawang,
  namun ahli sejarah Dr. J. W. Naarding memperkirakan pusat kerajaan ini
  terletak di hulu Way Tulang Bawang (antara Menggala dan Pagardewa) kurang
  lebih dalam radius 20 km dari pusat kota Menggala.

  Seiring dengan makin berkembangnya kerajaan Che-Li-P'o Chie (Sriwijaya), nama
  dan kebesaran Tulang Bawang sedikit demi sedikit semakin pudar. Akhirnya sulit
  sekali mendapatkan catatan sejarah mengenai perkembangan kerajaan ini.

  Ketika Islam mulai masuk ke bumi Nusantara sekitar abad ke-15, Menggala dan
  alur sungai Tulang Bawang yang kembali marak dengan aneka komoditi, mulai
  kembali di kenal Eropa. Menggala dengan komoditi andalannya Lada Hitam,
  menawarkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan komoditi sejenis
  yang didapat VOC dari Bandar Banten. Perdagangan yang terus berkembang,
  menyebabkan denyut nadi Sungai Tulang Bawang semakin kencang, dan pada masa
  itu kota Menggala dijadikan dermaga "BOOM", tempat bersandarnya kapal-kapal
  dari berbagai pelosok Nusantara, termasuk Singapura.

  Perkembangan politik Pemerintahan Belanda yang terus berubah, membawa dampak
  dengan ditetapkanya Lampung berada dibawah pengawasan langsung Gubernur
  Jenderal Herman Wiliam Deandles mulai tanggal 22 November 1808. Hal ini
  berimbas pada penataan sistem pemerintahan adat yang merupakan salah satu
  upaya Belanda untuk mendapatkan simpati masyarakat.

  Pemerintahan adat mulai ditata sedemikian rupa, sehingga terbentuk
  Pemerintahan Marga yang dipimpin oleh Kepala Marga (Kebuayan). Wilayah Tulang
  Bawang sendiri dibagi dalam 3 kebuayan, yaitu Buay Bulan, Buay Tegamoan dan
  Buay Umpu (tahun 1914, menyusul dibentuk Buay Aji).

  Sistem Pemerintahan Marga tidak berjalan lama, dan pada tahun 1864 sesuai
  dengan Keputusan Kesiden Lampung No. 362/12 tanggal 31 Mei 1864, dibentuk
  sistem Pemerintahan Pesirah. Sejak itu pembangunan berbagai fasilitas untuk
  kepentingan kolonial Belanda mulai dilakukan termasukdi Kabupaten Tulang
  Bawang.

  Pada zaman pendudukan Jepang, tidak banyak perubahan yang terjadi di daerah
  yang dijuluki "Sai Bumi Nengah Nyappur” ini. Dan akhirnya sesudah Proklamasi
  kemerdekaan RI, saat Lampung ditetapkan sebagai daerah Keresidenan dalam
  wilayah Propinsi Sumatera Selatan, Tulang Bawang dijadikan wilayah Kewedanaan.

 


b. Masa Kemerdekaan RI


 


  Sejalan dengan perkembangan Negara RI, maka setelah Lampung memisahkan diri
  dari Propinsi Sumatera Selatan, dengan membentuk Propinsi Lampung, maka status
  Menggala juga ditetapkan sebagai kecamatan di bawah naungan Kabupaten Lampung
  Utara.

  Proses berdirinya Tulang Bawang tidak begitu saja terjadi. Diawali dari
  rencana sesepuh dan tokoh masyarakat bersama pemerintah yang sejak tahun 1972
  merencanakan mengembangkan Propinsi Lampung menjadi 10 Kabupaten/Kota, maka
  pada tahun 1981, Pemerintah Propinsi membentuk 8 Lembaga Pembantu Bupati, yang
  salah satunya adalah Pembantu Bupati Lampung Utara Wilayah Menggala,
  berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 821.26/502 tanggal 8 Juni 1981
  tentang Pembentukan Wilayah Kerja Pembantu Bupati Lampung Selatan, Lampung
  Tengah, dan Lampung Utara Wilayah Propinsi Lampung.

  Dalam kurun waktu dari tahun 1981 sampai dengan 1997, telah terjadi pergantian
  Pejabat Pembantu Bupati selama beberapa masa bhakti, yang dijabat oleh:

  1. Drs. Hi. M. Yusup Nur (masa bhakti 1981 s.d: 1985).

  2. Kardinal, BA (masa bhakti 1985 s.d. 1989)

  3. Drs. Hi. Somali Saleh (masa bhakti 1989 s.d. 1993)

  4. Drs. Rukhyat Kusumayudha (masa bhakti 1993 s.d. 1994)

  5. Drs. Tamanuri (masa bhakti 1994 s.d. 1996)

  6. Hi. Santori Hasan, SH. (masa bhakti 1996 s.d. 1997)

  Pada tahun 1997, dibentuklah Sekretariat Persiapan Kabupaten Tulang Bawang,
  dengan Sekretaris merangkap Pembantu Bupati Lampung Utara Wilayah Menggala Hi.
  Santori Hasan, SH. Selanjutnya untuk memuluskan pembentukan kabupaten,
  ditunjuklah Hi. Santori Hasan, SH sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulang
  Bawang sejak tanggal 20 Maret sampai dengan 9 Desember 1997 melalui Surat
  Keputusan Gubernur No. 821.2/II/09/97 tanggal 14 Januari 1997 tentang
  Penunjukan Plt Bupati Kabupaten Tingkat II Persiapan Tulang Bawang .

  Melalui serangkaian proses yang cukup melelahkan, akhirnya Kabupaten Tulang
  Bawang lahir, dan diresmikan keberadaannya oleh Menteri Dalam Negeri pada
  tanggal 20 Maret 1997, sebagai tindak lanjut ditetapkan UU No. 2 Tahun 1997
  tentang pembentukan daerah tingkat II Tulang Bawang dan Kabupaten Daerah
  Tingkat II Tanggamus. Dimana untuk selanjutnya pada tanggal 24 Nopember 1997
  terpilihlah Hi. Santori Hasan, SH sebagai Bupati Tulang Bawang pertama, untuk
  periode tahun 1997-2002, yang dilantik pada tanggal 9 Desember 1997.

  Pada periode selanjutnya, melalui proses pemilihan Bupati Tulang Bawang pada
  tanggal 12 Nopermber 2002 terpilihlah Dr. Abdurachman Sarbini, dan AA.
  Syofandi sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tulang Bawang untuk periode
  2002-2007, yang dilantik pada tanggal 9 Desember 2002. Kemudian melalui proses
  Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung oleh masyarakat yang pertama kali
  dilaksanakan pada tahun 2007, Dr. Abdurachman Sarbini kembali terpilih sebagai
  Bupati Tulang Bawang periode 2007-2012, berpasangan dengan Drs. Agus
  Mardihartono, MM, sebegai Wakil Bupati, yang dilantik pada tanggal 9 Desember
  2007.

  Sementara itu sejak berdirinya Kabupaten Tulang Bawang, Dewan Perwakilan
  Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tulang Bawang juga mengalami proses pergantian
  pucuk pimpinan. Pada periode 1997-1999, Ketua DPRD dijabat Abadi SP, pada
  periode 1999-2004 Ketua DPRD dijabat Samsul Hadi, dan periode 2004-2009 Ketua
  DPRD dijabat Lamijiono, S.Pd, MM, yang kemudian sebelum masa bhaktinya
  berakhir digantikan oleh Herman Artha.

  Pada tanggal 18 Agustus 2009, anggota DPRD Kabupaten Tulang Bawang periode
  2004-2009 secara resmi mengakhiri masa jabatannya, yang kemudian melalui
  mekanisme yang berlaku digantikan oleh Anggota DPRD periode berikutnya yaitu
  2009-2014, yang merupakan hasil Pemilu Legislatif 9 April 2009. Sedangkan
  Ketua DPRD masa bhakti 2009-2014 adalah Winarti,SE yang dilantik pada tanggal
  19 Oktober 2009.




c. Tulang Bawang Kini dan Masa Datang.

 

  Kabupaten Tulang Bawang yang pada awal berdirinya memiliki luas wilayah
  7.770,84 km² atau 22% dari wilayah Lampung, merupakan kabupaten terbesar di
  Propinsi Lampung.

  Menyadari luas wilayah dan besarnya tantangan pembangunan Kabupaten Tulang
  Bawang, maka dengan didukung aspirasi masyarakat, pada tahun 2007, Bupati
  Tulang Bawang Dr. Abdurachman Sarbini mengambil sebuah terobosan besar dengan
  memekarkan wilayah Kabupaten Tulang Bawang menjadi 3 kabupaten, yaitu
  kabupaten induk Kabupaten Tulang Bawang, dan dua kabupaten baru, Kabupaten
  Tulang Bawang Barat dan Mesuji.

  Dalam proses realisasi dua daerah otonomi baru itu pula, catatan menariknya
  adalah, sangat langka dan jarang sekali terjadi secara nasional, adanya upaya
  keras dan inisiatif dari kabupaten induk seperti yang dilakukan oleh Kabupaten
  Tulang Bawang.

  Beberapa pertimbangan dilakukannya pemekaran dua daerah otonomi baru,
  diantaranya untuk menciptakan percepatan pembangunan daerah, mengefektifkan
  pelayanan publik, memperpendek rentang kendali pemerintahan, sekaligus dapat
  mempercepat kesejahteraan masyarakat, baik di dua kabupaten baru hasil
  pemekaran, maupun di kabupaten induk.

  Sedangkan dalam prosesnya, pemekaran Kabupaten Tulang Bawang Barat dan Mesuji
  akhirnya dapat diwujudkan, yaitu dengan disyahkannya UU Nomor 49 Tahun 2008
  tentang Pembentukan Kabupaten Mesuji dan UU Nomor 50 Tahun 2008 tentang
  Pembentukan Kabupaten Tulang Bawang Barat, tanggal 26 November 2008, yang
  kemudian diresmikan pendefinitifannya tanggal 3 april 2009, yang ditandai
  dengan dilantiknya kedua Penjabat (Pj) Bupati di dua daerah otonomi baru
  tersebut oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto.

  Setelah wilayahnya dimekarkan, kini Kabupaten Tulang Bawang memiliki luas
  wilayah 4385.84 km² dengan 15 kecamatan, 4 kelurahan dan 148 kampung. Namun
  meskipun luas wilayahnya berkurang pasca dimekarkannya dua daerah otonomi
  baru, Kabupaten Tulang Bawang masih tetap memiliki beragam potensi yang
  menjanjikan guna meningkatkan kemajuannya.
http://tulangbawangkab.go.id/index.php