Dari Wikipedia Bahasa Indonesia, Tari adalah gerakan tubuh secara berirama yang dilakukan pada tempat dan waktu tertentu, untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud dan pikiran. Bunyi-bunyian yang disebut musik pengiring tari, mengatur gerakan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan.
Tari yang akan dibahas disini terbatas pada tari adat “SAMANG BEGAYUT” yang hanya ada di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Lampung. Secara harfiah pengertian Samang Begayut adalah Siamang binatang berbulu yang suka bergelayutan di pepohonan dengan suaranya yang khas dan nyaring.
BERBAGAI jejak yang masih bertakhta meneguhkan bahwa Menggala memang kota tua di Lampung. Banyak tempat dan tilas-tilas di bantaran Way Tulangbawang itu masih menyimpan cerita yang menyejarah.
Aspek menonjol pada peninggalan sejarah salah satunya adalah arsitektur. Mencermati rumah-rumah panggung di Menggala selintas mirip denagan rumah-rumah bangsawan Jawa tempo dulu. Terbuat dari kayu tembesu yang panjang mencapai 20 meter menambah eksotis rumah panggung keluarga Warganegara.
Silsilah Paksi Bejalan Di Way :
1. Ratoe Bejalan Di Way
2. Ratoe Tunggal
3. Kun Tunggal Simbang Negara
4. Ratoe Mengkuda Pahawang
5. Puyang Rakian
6. Puyang Raja Paksi
7. Dalom Sangun Raja
8. Raja Junjungan
9. Ratoe Mejengau
10. Pangeran Siralaga
11. Dalom Suluh Iroeng
12. Pangeran Nata Marga
13. Pangeran Raja Di Lampoeng
14. Pangeran Jaya Kesuma I
15. Pangeran Pakoe Alam
16. Pangeran Puspa Negara
17. Pangeran Jaya Kesuma II
18. Ratoe Kemala Jagat
19. Suntan Jaya Kesuma III
20. Suntan Jaya Kesuma IV
JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana pemerintah untuk mengubah Institut Seni Indonesia menjadi Institut Seni dan Budaya Indonesia serta Sekolah Tinggi Seni terus bergulir. Pemerintah juga akan mendirikan empat Institut Seni dan Budaya Indonesia baru di Aceh, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Keempat Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) baru ini diharapkan bisa lebih mengembangkan seni budaya khas daerah setempat. Saat ini ada lima institut seni, yaitu ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ISI Bali, ISI Padang Panjang, dan Institut Kesenian Jakarta, serta satu Sekolah Tinggi Seni, yaitu di Bandung.
”Semua ISI (Institut Seni Indonesia) akan diperluas tugasnya. Kalau tadinya hanya berfokus pada kesenian, nantinya akan diperluas dengan kebudayaan yang terkait dengan kesenian tersebut,” kata Joko Santoso, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jumat (3/2).
Tari Bedana adalah perwujudan luapan sukacita atas wiraga (gerak badan) untuk mencapai ekstase, dalam batas-batas tertentu ketika menari diiringi gamelan khasnya, jiwa kita seperti mengembarai lembah-lembah hijau di bawah kaki Gunung Rajabasa, semua berubah indah. Riang.
Estetika tari bedana membuat kedirian kita berasa selalu muda. Penuh antusiasme. Dan pada kesempatan lain, ketika menyaksikan langsung tari bedana dipentaskan dengan sunggingan senyum manis muli-mekhanai, kita serasa diguyur air pegunungan yang atis. Secara otomatis terpancing "begitu ingin" larut dalam tari.
Tari bedana yang diyakini bernapaskan agama Islam merupakan tari tradisional, mencerminkan tata kehidupan masyarakat Lampung yang ramah dan terbuka sebagai simbol persahabatan dan pergaulan. Pada tari ini tergambar nilai akulturasi antara tata cara dan pranata sosio- kultural adat gaul anak muda Lampung dengan komitmen beragama.
Budaya dengan unsur spiritualistik yang memiliki aspek lokalitas, mulai menjadi kebutuhan terpenting untuk membentengi--meminjam bahasa Edward W. Said dalam bukunya, Kebudayaan dan Kekuasaan--imperealisme kebudayaan. Sebelum sampai pada definisi tentang seni Islam, perlu kiranya kita merujuk pada khazanah lama yang positif agar tidak terjebak pada nativisme budaya.
Penulis berharap kekayaan budaya Lampung, selain tidak ambigu, antimodernitas, dan terpenting jangan sampai budaya itu terputus. Kekhawatiran pada keterputusan budaya (cultural discontinuity) ini, perlu dirumuskan sistematika pelestarian yang terukur dan efektif. Dari sinilah permulaan dibutuhkannya al-turats atau tradisi diteliti dan diinventarisasi.
Fundamen pemikiran untuk pelestarian tari bedana, termasuk semua khazanah budaya Lampung yang lain, secara kritis harus memperhitungkan pertama, oublie (yang dilupakan). Terkait pencermatan pada pertanyaan adakah yang dilupakan dalam ragam gerak yang terstruktur pada tari bedana yang familier dikonsumsi publik kini.
Ragam satu sampai sembilan dengan komposisi gerakan; khesek gantung, khesek injing, tahtim dan penghormatan, jimpang, ayun, humbak moloh, belitut, gelek, dan gantung adalah ragam struktur gerak elegan, tetapi masih perlu kajian empirik untuk benar-benar membuktikan tidak ada yang dilupakan.
Masuk pada pertanyaan kritis kedua, travesty atau adakah yang dipalsukan dalam gerakan tari bedana? Dari sini sebenarnya penulis berusaha mengkaji fungsinya secara ideologis-filosofis. Maka refleksi dari yang dilupakan dan yang dipalsukan itulah pisau analitik sebagai alat untuk sampai pada keindahan yang lain yang belum terpikirkan (impense).
Sangat terbuka ruang kontemplatif agar embrional keramahan budaya lokal dapat lebih mempertegas bangunan peradaban Lampung di masa depan. Sebab, maraknya seni budaya yang diarahkan atau mengekor pada westernisasi, bahkan diadopsi secara sporadis, meminjam ramalan John Neisbit tentang kemungkinan yang terjadi pada banyak orang akibat derasnya arus informasi dan komunikasi tentang berpikir secara lokal, bertindak secara global (think locally, act globally).
Karena pengaruh itulah tari bedana dipastikan tergeser oleh seni koreografi (seni kontemporer) lain yang lebih terkesan modern misalnya; ciliders, dance, aerobic, dan lain sebagainya. Berikut dentingan gamelan khas yang mengiringinya, mungkinkah agar eksis perlu aransemen dan atau ditambah alat musik modern jika dinilai bebunyiannya terlalu kolot, ndesit, dan ortodoks?
Bahkan, sebenarnya paradigma yang stigmatis, ketika tari bedana kurang bagus untuk acara pesta muda-mudi waktu pernikahan atau tari latar lagu pop alternatif. Tari Bedana dengan konsep keramahan budaya lokal seyogianya dapat membentengi atau minimal menjadi alternatif seni koreografi.
Persoalannya adalah sejauh mana tingkat sosialisasi dan berapa banyak anak muda yang menguasai wiraga itu? Seandainya seperti tari komando misalnya, yang semua anak pramuka dari penggalang, penegak, sampai pandega begitu fasih menguasai gerakan berikut improvisasi dengan iringan musik apa pun, mungkin kelestarian tari bedana bukan persoalan.
Tafsir dari 'Khesek' Gantung ke Gantung
Seni Islam, dari defenisinya terlalu membuat bias, cenderung dikotomis. Maka meminjam motodologi almarhum Prof. Dr. Kuntowijoyo terkait dengan budaya profetik, sebuah strategi sosial-budaya dengan meletakkan tradisi lokal dalam muatan nilai keislaman agar manunggal sebagai nafas estetika, yaitu sisi lain keindahan dan kebenaran yang mengajak ke jalan Tuhan.
Sekarang ini tari bedana boleh terkesan ndeso, kampungan atau ketinggalan zaman dibanding dengan seni tari modern semacam cha-cha, dansa, dll. (yang juga tari tradisi Brasil dan Inggris). Akan tetapi, menurut prediksi Kuntowijoyo, tahun 2020 adalah titik pangkal realisasi ide jika strategi profetik berhasil merealisasi program seni kemanusiaan sebagai kelanjutan dari berbagai aksi pembaharuan sosial-budaya berbasis kesadaran keagamaan. Jika stratak ini dilakukan, keniscayaan dan jangan heran jika nanti tari bedana sebagai ikon dan jenis tarian favorit pengiring gembira. Padahal orang yang menguasai dan paham tari bedana makin langka.
Tafsir konseptual gerak tari bedana dari ragam satu; kehesek gantung sampai pada ragam sembilan sebagai gerak penutup yang bernama gantung, memiliki makna keramahan dan kebahagiaan hidup. Sekaligus mengandung aspek moral tata laku antara bujang dan gadis, berinteraksi saling melempar senyum tetapi tidak bersentuhan, bahkan tidak saling menatap atau implisit sama-sama menundukkan pandangan (ghodob absor), anggun dan santun, barangkali inilah salah satu napas Islam dalam Tari Bedana.
Selain itu, prosesi tahtim dan penghormatan yang terletak pada posisi ragam ketiga, sebuah pembangkangan kultural atau defamilierisasi yang menarik. Akan tetapi, setelah mencermati lebih lanjut, sebelum ragam khesek injing pada posisi kedua, gerakan khesek gantung menggambarkan aturan wudu, arena bersuci untuk sampai pada ritual ibadah penyembahan pada Tuhan.
Lihatlah ketika memutar tangan (khesek gantung) yang kemudian mengayunkan tangan. Di sini tahtim dan penghormatan (seolah mengusap wajah) menjadi sinergi untuk gerakan (sistematika) wudu.
Dalam kerangka filosofis, tari ini mengandung keagungan profetik. Tari bedana memang tidak setenar poco-poco. Hal ini didasari, selain intensitas manggung, kecintaan pada khazanah budaya lokal kita sebagai masyarakat Lampung layak dikritisi.
Ini kemudian berimbas pada sosialisasi. Masuk juga produksi karya berkesenian para seniman kita yang tidak (baca; kurang berakar) pada keramahan lokal. Logikanya adalah kekuatan seni yang berbasiskan kearifan budaya lokal dengan sentuhan nilai islami ternyata sulit mendapat tempat karena bersentuhan dengan sensibilitas publik yang banyak dipecundangi nafsu.
Akan tetapi, metodologis profetik yang digunakan penafsiran budaya, sebenarnya juga sudah menjadi ilmu alat mengkaji apakah seni ini mengajak pada ketuhanan atau mengajak pada penjajaan syahwat.
* Endri Y., Ketua Seni Budaya PW Pemuda Muhammadiyah Provinsi Lampung.
Orang nomor dua di kabupaten Tulang Bawang jum’at kemarin melakukan ujian terbuka guna memperoleh penganugrahan gelar doktor dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Agus mardihartono atau yang akrab dengan panggilan cak agus ini melakukan ujian terbukanya di gedung lengkung pascasarjana ugm lantai lima dengan di dampingi oleh istri, anak dan sanak keluarganya serta di hadiri oleh para mahasiswa dari Himpunan Pelajar Mahasiswa Tulang Bawang dan Tulang Bawang Barat Yogyakarta (Hipmatubayo), Hipmala, Ikpm Se-Komisariat Lampung, Masyarakat Lampung Yogyakarta, dan Mahasiswa Dari Ikpm Se - Indonesia.
disebut dengan istilah nyeruit.. yang artinya adalah kegiatan makan yang dilakukan secara bersama-sama dengan hidangan sebagaimana tersebut di atas, yaitu sambol seruit, ikan gabus bakar, lalapan berupa ketimun, labu siam rebus, daun-daunan segar, terong lurik muda yang bulat-bulat, dengan nasi putih yang masih “ngepul” panas.
Beberapa jenis masakan khas Lampung tersebut diantaranya adalah Seruit….Biasanya masakan khas Lampung ini menggunakan ikan sebagai bahan utamanya….Jenis ikan yang digunakan oleh masyarakat Lampung saat mengolah masakan Seruit antara lain, ikan belide, ikan sungai, ikan baung, dan ikan layis…. Lampung adalah seruit yaitu Makanan khasmasakan ikan digoreng atau dibakar dicampur sambel terasi, tempoyak (olahan durian) atau mangga…
Seruit merupakan makanan tradisional lampung yang sangat khas dan memiliki cita rasa tersendiri baik dalam pengolahan, rasa maupun penghidanganya. Dalam pengolahanya, Seruit menggunakan bahan berupa ikan yang di panggang atau di goreng tidak terlalu kering agar cita rasa manis pada daging ikan tidak hilang.
Upacara Cakak Pepadun adalah upacara pemberian gelar untuk adat pepadun. Gelar adat Lampung di anataranya ialah:
- Suttan
- Raja
- Pangeran
- Dalom, dan lain-lain
Beberapa hal yang harus dilaksanakan dalam upacara Cakak Pepadun
1. Ngurau (ngundang)
Siapa saja yang akan melaksanakan upacara adat sedapatnya mengumpulkan masyarakat adat (Peghwatin). Peghwatin akan menyuruh yang punya hajat dan masyarakat kampung lain.
Alkisah, Sungai Tulang Bawang sangat terkenal dengan keganasan buayanya. Setiap nelayan yang melewati sungai itu harus selalu berhati-hati. Begitupula penduduk yang sering mandi dan mencuci di tepi sungai itu. Menurut cerita, sudah banyak manusia yang hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
Pada suatu hari, kejadian yang mengerikan itu terulang kembali. Seorang gadis cantik yang bernama Aminah tiba-tiba hilang saat sedang mencuci di tepi sungai itu. Anehnya, walaupun warga sudah berhari-hari mencarinya dengan menyusuri tepi sungai, tapi tidak juga menemukannya. Gadis itu hilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Sepertinya ia sirna bagaikan ditelan bumi. Warga pun berhenti melakukan pencarian, karena menganggap bahwa Aminah telah mati dimakan buaya.
Sementara itu, di sebuah tempat di dasar sungai tamp
Tangga raja pagardewa,yg di gunakan sebagai terminal penyebrangan transportasi air.
Sebenarnya bukan Pagar Dewa tetapi PAGER DEWOU asal kata dari Pagar Dewa, pagar artinya dikelilingi/ dilingkari/ dipagari, dewou artinya dewa-dewa..
Arti pengertian Pagar Dewa :
1. Kampung yang didiami oleh dewa-dewa ( orang lebih)
2. Pagar Dewa = pepatian, pepatian bahasa Lampung = kematian
Pagar Dewa diartikan suatu tempat pembunuhan, bunuh membunuh antara satu dengan yang lainya.
3. pepatian = Raja-raja / para ningrat jadi Pagar Dewa tempat berdirinya para raja-raja.
Sebagai terlihat diatas, Pagar Dewa dilingkungi oleh para keramat-keramat yang menurut anggapan rakyat sama halnya dengan dewa karena kesaktian-kesaktian mereka dan mukjizat-mukjizat para dewa. Jadi Pagar Dewa kampung yang dikelilingi oleh dewa dewa.
Desa Tradisional Wana terletak di Kecamatan Melinting Kabupaten Lampung Timur. Desa ini merupakan salah satu dari tujuh desa inti kediaman masyarakat Lampung Melinting. Begitu mamasuki desa ini pemandangan mata kita langsung tertuju ke deretan rumah-rumah panggung yang terletak di kanan-kiri jalan raya, yang masih terawat dengan baik dan dihuni oleh penduduknya. Itulah salah satu tipe rumah dengan arsitektur tradisional Suku Lampung yang menjadi eyecatching manakala kita memasuki desa tersebut. Rumah panggung masyarakat Lampung Melinting memiliki ornament ukuran khas Lampung. Suasana kehidupan khas masyarakat adat Lampung Melinting masih terasa di sini, berikut acara-acara tradisi yang masih dilaksanakan masyarakat setempat seperti upacara perkawinan, pertemuan adapt lainnya. Masyarakat Lampung Melinting termasuk ke dalam masyarakat adat Lampung Saibatin (Lampung Peminggir, Lampung Pesisir).
Pada tahun 1990-an Pemerintah Provinsi Lampung menetapkan Desa Tradisional Wana sebagai salah satu obyek pariwisata budaya. Ungkapan Indonesia “pariwisata budaya” atau sering diringkas menjadi “wisata budaya” terbentuk dari dua kata baru yang berasal dari bahasa Sansekerta. Istilah pariwisata, yang telah secara resmi menggantikanistilah tourisme setelah Musyawarah Nasional Taurisme II, pada tahun 1958, mengandung arti pelesir dan hiburan. Adapun istilah budaya, yang muncul pada tahun 1930-an sebagai pengganti istilah Belanda cultuur, mengandung artian pelesiran dan hiburan dengan maksud mengembangkan nalar dan watak seseorang.
Dengan mengunjungi Desa Wana kita bisa mengenali sejumlah aspek budaya Lampung mulai dari mengenali asal-usul keratuan Melinting, manusinya, rumah panggungnya, bahasanya, kehidupan masyarakatnya, adat istiadatnnya, benda-benda budayannya, kreasi kesenian tradisionalnya, dan entah apa lagi. Berikut akan dilihat beberapa aspek budaya dari masyarakat adapt di Desa Wana.
Asal-usul Keratuan Melinting.
Setelah runtuhnnya kerajaan Majapahit sekitar awal abad ke 15, timbulah kerajaan Islam di Pulau Jawa. Hasil perjuangan umat Islam yang dipelopori para wali yang dikenal dengan julukan Walisongo atau 9 wali. Salah satu di antara walisongo itu adalah Syarif Hidayatullah yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati di Cirebon Jawa Barat, setelahSyarif Hidayatullahberhasil menaklukan Jawa Barat termasuk daerah Banten, maka banten diserahkan kepada anaknnya yang tua Maulana Hasanuddin yang bergelar Pangeran Sabakingking. Maulana Hasanuddin jadi Sultan di Banten, ia berkuasa dan memerintah Banten dengan penuh kebijaksanaan, adil dan membimbing rakyat Banten berdasarkan ajaran agama Islam.
Pada suatu ketika, Sultan Maulana Hasanuddin mengirim utusan ke Lampung untuk berdakwah menyebarkan ajaran agama Islam. Adapun yang diutus Sultan Banten itu adalah dua juru dahwah yaitu Ratu Saksi aliasaru Saksi kemudian disebut Darah Putih dan Ratu Simaringgai yang kemudian bergelar Ratu Melinting. Karena penyebaran Agama Islam di Lampung antara lain melalui Labuhan Maringgai sekarang, yang berada di bawah kekuasaan Ratu Pugung dan mereka mengajarkan agama Islam terhadap Ratu Pungung dan rakyat Keratuan Pugung sampai berbulan-bulan. Ratu Pugung mempunyai cucu dua orang gadis yaitu yang bergelar Putri Sinar Alam, anak dari Singindor Alam merupakan anak tertua Ratu Pugung. Satunya lagi bergelar Putri Sinar Kaca, anak dari Gayung Garunggung yang merupakan anak Ratu Pugung yang lebih muda.
Putri Sinar Alam kawin dengan Ratu Saksi (Darah Putih) dan mempunyai anak lelaki bernama Minak Kejala Ratu. Putri Sinar Kaca kawin dengan Ratu Simaringgai yang juga mempunyai anak lelaki bernama Minak Kejala Bidin. Sebelum Minak Kejala Ratu dan Minak Kejala Bidin lahir, sewaktu mereka masih di dalam kandungan, ayah mereka yang kembali ke Cirebon tidak kembali ke Lampung. Setelah Minak Kejala Ratu dan Minak Kejala Bidin tumbuh menjadi pemuda, suatu ketika mereka berdua bertannya kepada ibu mereka, siapa dan dimana gerangan ayah mereka berdua berada. Karena desakan kedua anak itu akhirnya Putri Sinar Kaca menjelaskan tentang bapak mereka berdua. Akhirnya